sifat manusia yang minus atau bisa dibilang buruk, lebih mudah diingat daripada kebaikannya.
kadang masih banyak orang yang seperti itu..
juga, dalam hal menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis, saat hubungan itu harus berakhir. nampaknya lebih susah melaluinya saat hubungan itu berakhir dengan baik-baik saja.
dan ketika sudah teringat akan nilai minus dari pasangannya, dengan mudahnya dia melaluinya.
padahal hari itu aku cuma merasa kurang atau iri, krn sewaktu masih jadian janji nonton film *** namun, ternyata dia nonton dgn yg lain,dan skrng saat sudah putus dengan konteks yang sama *nonton* meskipun dgn orang yg lain..maaf kalau sifat minusku itu membuatmu gelisah, resah..
aku hanya melihatnya dari segi konteksnya saja..bukan yg lain...
mungkin baginya itu menjadi suatu kebiasaan yang sudah terpola di fikirannya, meskipun secara tidak sadar. bahwa lebih baik putus karena sesuatu hal yang terjadi, entah itu ketauan selingkuh, kebohongan besar, atau sebagainya.
mungkin juga baginya, aku bisa melaluinya waktu itu..
dengan segala upaya memang kuusahakan untuk melaluinya, dan sampai dia merasa bahwa dirinya cewek tolol yang bisanya cuma diem aja saat kita putus baik2, sedangkan gue bisa melaluinya.
namun, nyatanya ga setiap jalan berjalan dengan lurusnya dan yg dia fikirkan itu padahal nyatanya tidak selamanya aku bisa melaluinya dengan baik.
sampai pada suatu saat, aku bimbang dan ingin bertemu denganmu, namun kejujuranku ternyata membuahkan sebuah percakapan di malam hari yang menyadarkannya untuk tidak selalu diam dan menangis2 karena proses ini.
aku memang tidak mau kamu menangis, tapi seakan aku menolak orientasinya untuk mempermudah proses ini.
jika ini memang menjadikannya mudah, TUHAN..berikan aku kerelaan dan kelapangan hati, meskipun dengan cara membenarkan sifat minus yang aku punya dan membuatnya berfikir untuk tidak menangis lagi.
dan biarkan pula jika, tidak ada beberapa jam berlalu, rasa sayang yang pernah diucapkan sebelumnya itu ternyata sudah tidak ada lagi....
TUHAN, aku hanya mencoba memberikan keluhku kepadaMU, bukan orang lain, seperti yang dianggap olehnya.
TUHAN, jangan engkau jadikan fikirannya menjadi tambah rumit karena tulisan ini.
aku hanya mencoba mencurahkan, dengan arikulasi yang tidak sesuai apa yang kufikirkan.
TUHAN, sekarang saatnya aku untuk yang melalui proses ini sendirian.
sendiri, diantara gerimis air hujan saat aku tak tahu menuju kemana fikiran ini..
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar